Pertikaian

Banyak hal terjadi diluar rencana dan kemauan kita.

Malam itu perdebatan tak berujung kian memanas ketika malam kian larut. Aku berusaha menjelaskan maksud dari ucapan maupun tindakan yang aku ambil diantara aku dan dia. Namun semakin aku berusaha menjelaskan maksudku dia semakin sengit memojokkan aku dengan persepsinya. Dia semakin kekeh dan kukuh memaksa aku mengakui apa yang dituduhkannya padaku. Aku berusaha mereda dan menjelaskan bahwa apa yang dipikirkannya itu tidaklah benar, tapi dia semakin gencar memaksaku mengakui apa yang dipikirkannya itu. Sampai akhirnya emosiku tersulut, amarahku meledak, tak mampu lagi aku menahan diri malam itu. Untuk menghentikan perdebatan itu aku langsung off data, kuletakan HP dan aku tidur, kuhempaskan badanku di atas kasur tua yang digelar di atas lantai. Amarah berkecamuk di dada, seakan tak ada lagi rasa takut apapun saat itu, aku benar-benar naik pitam. Berbagai pemikiran berseliweran di kepalaku. Aku terus menghela nafas berusaha menenangkan diri.

Aku kadang tak habis pikir dan tak mampu memahami apa sebenarnya maksud dari sikap dia kepadaku. Dia yang beberapa hari terakhir sangat getol menyerangku dengan persepsinya seolah aku sudah berbohong dan melakukan kejahatan padanya. Padahal semua itu tidaklah benar adanya, justru aku masih selalu mengharap dan merindukannya, tapi dia berpikir berbeda.

Pikiranku menerawang ke masa lalu dimana kisah-kisah manis selalu tercipta antara aku dan dia, obrolan yang seru hingga menjelang pagi, pertemuan yang mesra dan hangat membara membuat aku dan dia bisa larut hingga lupa waktu dan bahkan tidak pernah cukup, dari kesempatan yang tersedia. Selalu terasa kurang dan ingin lagi. Tapi kenapa malam itu seperti tidak ada artinya sama sekali, dia begitu marah dan sengit, seolah menantang untuk berpisah saat itu juga.

Dalam kemarahan ada terbersit pikiran menuruti keinginan dia, karena rasanya malam itu aku tak tahan. Tapi di dasar hati ada keraguan akan hal itu. Aku mencoba terus memikirkannya hingga pagi datang dan aku on data kembali, dan ternyata pertikaian berlanjut bahkan kian memanas karena aku off data semalem. Pertengkaran kian memanas, dan emosiku kembali meledak, aku marah bahkan sangat marah, sampai akhirnya aku dan dia saling diam. Kami tak berkomunikasi seolah tak pernah ada cerita antara aku dan dia. Hingga setelah beberapa hari berlalu amarahku mereda dan kerinduanku padanya kembali menguat mengusik ketenanganku kembali. Aku mencoba menghubungi dia mencoba membangun komunikasi kembali. Meski semua masih terasa tak begitu jelas, tapi aku masih tetap menggenggam harapan pada dia, mungkinkah?

Waktu yang akan menjawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s